Love In The Rain

Love In The Rain
...di tempat ini, hujan dinanti setiap hari...

Rabu, 06 Februari 2013

Cinta Kembang Gula

Halo, cinta yang jauh dimata.

Aku tidak pikun sayang,
Justru kau yang pikun.
Tidak ada badai malam itu,
mungkin di dalam kepalamu iya, badai, sedang berkecamuk dengan ganasnya dan memporak-porandakan ingatanmu tentangku hingga bercampur dengannya.

Tidak apa sayang,
memang nyatanya sulit merubah rutinitas, apalagi rasa.

Kala itu aku tahu sayang,
Hatimu padaku tak genap separuh.
Perhatianmu padaku pun tak pernah utuh.

Masih ada siluet dirinya yang kulihat jauh di dalam matamu,
di sudut hatimu.
Bukan sayang,
aku tahu bukan kau tak ingin menghapusnya,
aku tahu kau sangat ingin.
Hanya saja,
memang tak pernah mudah menduakan dia yang tadinya kau dewakan.

Perlahan saja.
Akupun masih meminum kopi panas tanpa gulaku teguk demi teguk.
Agar apabila sampai pada sesap terakhir,
bukan pahit ampas kopi lagi yang kurasa,

..tapi cinta tanpa dusta, rasa kembang gula.

Senin, 04 Februari 2013

Tuhan Dalam Secangkir Kopi

Selamat pagi S,
Bagaimana kopimu pagi ini?
Manis? Pahit? Kental?

Pagiku kuawali dengan dua sachet kopi hitam instan dengan satu bongkah gula batu dalam satu cangkir keramik sedang.

Ah kopi,
Kopi hitam selalu saja mengingatkanku pada pertemuan pertama kita.
Kau tahu?
Waktu itu aku pesan kopi, tanpa gula, dingin.
Persis seperti perasaanku kala itu.
Pahit dan dingin.
Kukira, kau dan aku sama-sama tak ingin halaman pada surat ini menceritakan tentang masalaluku. Sepakat?

Begini S,
Kurasa tidak perlu pula kujelaskan bagaimana kehadiranmu lantas sedikit menghangatkan kebekuan sikap dan menggerakan roda gerigi kecil yang telah lama diam dan berkarat jauh di dalam hatiku.

Sungguh S,
Baru kepada kamu, getaran halus di rongga dada sebelah kiri ku hadir perlahan.
Mencuri persediaan oksigen untuk paru-paruku selama sepersekian detik.

Demi Tuhan,
Kau datang padaku tanpa sebuah ketergesaan, lalu kemudian menghancurkan semua sistem yang kubuat untuk melindungiku dari monster di dalam diriku sendiri. Menghancurkan dinding es yang berdiri kokoh melingkari hatiku. Mengganti lingkaran itu dengan lingkar hangat pelukmu.

Dan bahkan, kau membuatku menikmatinya.

Atas nama sejuta topan badai terimakasih,
N

Sabtu, 02 Februari 2013

Surat Cinta Si Oportunis

Kaum pecinta itu oportunis. Siapa yang tak ingin cintanya berbalas? Bahkan Tuhanpun ingin.

Hari ketiga bulan kedua.
Kepada kamu,
Nomor 'S'atuku.

Tahun lalu aku membaca kalimat pada pembuka surat ini masih dengan pemikiran naif; aku bukan oportunis, karena kupikir tak apa jatuh cinta sendirian, toh pada akhirnya aku dan dia bahagia.

Tapi ternyata aku salah S,
Bahagia dalam ruang pikirku dan dalam kesungguhanku ternyata amat berbeda.
Aku menciptakan bahagia semu atas dasar luka yang kubuat dan kugarami sendiri. Aku menikmati luka dan menjadi terbiasa karenanya.
Bahkan aku sempat menjadi sadomasokis atas nama pengorbanan cinta yang pada akhirnya aku sadari sebagai kesia-siaan semata.
Aku sadar,
Semakin aku berusaha untuk terlihat bahagia, jauh di dalam sini, aku justru terlihat sangat menyedihkan.

S,
Misalnya suatu hari aku terpaksa merelakanmu dan memaksakan diri untuk terlihat kuat dan bahagia.
Ingatkan aku untuk tidak berpura-pura dan paksa aku untuk jangan berhenti memperjuangan ruang masadepan yang aku dan kamu sebut "kita".

Kepada S,
Jangan menyerah untuk membuatku tetap bertahan dan berTuhan.
:)