Love In The Rain

Love In The Rain
...di tempat ini, hujan dinanti setiap hari...

Jumat, 26 Oktober 2012

Maaf Dari Masalalu

Aku merindukan kamu, seseorang yang pernah sangat berarti di hidupku.
Kamu adalah sumbu dari segala insprasi yang mengalir terus menerus.
Kamu pernah menjadi yang sangat aku inginkan hadirnya dikala luka menjadi mahkota.

Sampai kemudian engkau menjelma menjadi sosok yang tidak kukenal, yang membenciku dengan segenap jiwamu.
Entah darimana kau dapat benci itu, mungkin karena aku yang jahat tak mempercayai cinta yang sempat kau tawarkan. Atau mungkin karena kau memperdayai kita yang terlalu naif menghadapi takdir.

Aku takut merusak apa yang semesta telah rencanakan dalam ikatan persahabatan kita.
Bodohnya, aku tidak menyadari bahwa justru sikapkulah yag pada akhirnya menghancurkan segala yang tak pernah ada.

Kita adalah semu.
Aku tetap merindukan kamu, sebagai sahabat yang pernah kupunya.
Aku tetap merindukan kamu, sebagai cinta, yang tak pernah terjadi.
Demi benci yang semula menjadi takdir kita, kau hadirkan cinta yang seharusnya bukan kita.
Lantas kita menjadi hal yang paling sia-sia.

Kamis, 11 Oktober 2012

MATI

: Theodore

di kedalaman senyummu aku tersedak cinta. menyulam satu demi satu bahagia yang mulai genap saat aku dan kau tertawa bersama. kita begitu terlena hingga berhenti bersikap waspada pada luka yang sebenarnya masih menganga, siap menelan bahagia yang kita punya.
tiba-tiba saja, tanpa pertanda kau akhirkan aku yang mulanya kau awalkan. dunia dalam genggam tanganku merosot jatuh porak poranda. aku jatuh luka. pada cinta yang pura-pura. aku binasa.
Ini seperti kau tuangkan racun kedalam madu yang telah susah payah aku simpan lalu kau paksa aku untuk meminumnya dan membaginya bersama orang-orang yang berharga untukku.
kau bunuh aku. berkali-kali.
aku telah mati. pada hati.
Theodore, semoga tidak lagi ada hati yang kau khianati.

Senin, 08 Oktober 2012

Awalan

redup, biru, terang, coklat, angin, hilang, datang, tiga, lupa, kamu.


Hari ini aku pulang dengan bis malam, meninggalkan kota dengan sejuta kenang. Disebelahku duduk seorang wanita paruh baya dengan make-up tebal dan parfum yang menyengat hidung. Semestinya dengan suasana hati yang porak poranda seperti sekarang, dihalalkan untukku memaki dan menendang perempuan ini dari sampingku. Tapi tentu tidak kulakukan, ini bukan salahnya. Mungkin dia hanya sedang berusaha tampil cantik. Mungkin dia tidak mengetahui aku sedang patah pada hati yang selalu menolak lupa. Memang menyakitkan, sebesar apapun masalah kita, orang-orang lain akan tetap berjalan maju, tanpa memedulikan kita yang ada di belakang. Meski kadang beberapa diantara mereka mengatakan "aku tahu rasanya menjadi kamu." Mereka tidak pernah benar-benar tahu. Karena bekas lukanya, tidak ada pada mereka. Tidak.
Bus sudah gelap, perempuan di sebelahku sudah terlelap. Begitu gelapnya malam ini membuat aku tidak bisa melihat keluar jendela, padahal sebenarnya di luar ada pemandangan untuk dilihat. Gelapnya malam ini, mirip hubunganku denganmu dulu, hubungan kita bisa begitu gelap padahal kita berdua tahu , seandainya bulan muncul dan lampu lebih diterangkan, maka kita bisa melihat pemandangan bagus.
Kata Plato; "gelap itu tidak ada, yang ada hanyalah kurang cahaya."
Mungkin kita sudah meredup.
Pada hati.
Pada perasaan yang sekarat dan kemudian mati diam-diam.
Cinta yang datang tanpa diduga seperti angin, pada akhirnya hilang dan hanya mampu dikenang.
Rupanya semalaman aku tertidur.  Saat terbangun, pagi telah datang dan langit terlihat biru cerah tanpa awan. Sehelai daun berwarna cokelat, terbang jatuh melewati jendelaku. Perempuan disampingku telah bangun dan menyerocos pada penumpang di bangku depan yang memundurkan kursi karena terlalu penat.
Pemandangan jadi jelas di luar, bulan sudah tidak terlihat lagi.
Ku hitung sampai tiga, kemudian kamu menjadi tiada seperti pada awal mula.
Sampai jumpa lagi, mungkin di dalam cerita yang lain.

Purwokerto, 8 Oktober 2012. Hari baru.