"Kau mungkin bisa memiliki, raga, hati, dan cintanya. Tapi kau tak akan pernah memiliki jalan hidupnya."
Takdir.
Dua yang satu. Satu yang dua.
Aku satu-satunya orang yang tahu, dari dua hati yang satu aku menanggung luka begitu banyak.
Menimbang beban begitu berat.
Aku mungkin memiliki raga, hati, dan cintamu. Tapi aku tak akan pernah sanggup memiliki takdirmu.
Takdir yang kau tulis dengan mantap sebagai bekas luka.
Melukakan aku yang kini berusaha melupakan kamu.
Satu doa terakhir di sujudku pagi ini, semoga kau bahagia.
Love In The Rain
...di tempat ini, hujan dinanti setiap hari...
Sabtu, 18 Mei 2013
Kamis, 09 Mei 2013
Sin
Hanya karena nama Tuhan kita punya satu huruf vokal yang berbeda. Cinta tidak lagi mewujud doa bahagia.Ini adalah sebuah surat.
Baca surat tak selesai ini sampai selesai.
Agar setidaknya kau tahu bahwa seseorang sedang menengadah tangan, meminta Tuhan memanjangkan waktu yang hanya sedepa.
Tuhan yang kemudian memisahkan dua hati yang saling mengimani.
Tanyakan pada Tuhanmu, apakah jatuh hati kepada umatnya adalah sebuah dos...
Kamis, 02 Mei 2013
Pelajaran di Linimasa.
Genap dua hari aku tertegun membaca linimasa dari seorang yang sebelumnya kukira tahu betul bagaimana (yang kukira sebelumnya adalah) cara menikmati hidup.
Kemudian, aku memanusiakan ia yang tadinya kudewakan.
Aku mulai mencerna satu-persatu tawa yang ia bagi melalui kata-kata di linimasanya.
Aku semakin merasakan pedih yang dengan keras berusaha dialih.
Itulah dia.
Sosok yang menertawai luka hati,
Sosok yang sebenarnya acuh pada diri sendiri dan menyimpan banyak peduli dengan amat hati-hati.
Aku menemukan kepercayaan diri yang kerdil dalam kesombongannya.
Aku menemukan hati yang lapang pada amarahnya.
Aku menemukan luka yang amat dalam pada kediamannya.
Aku menemukan sedikit getir, pada tiap kata yang tadinya, mampu membuatku terbahak tiap membacanya.
Pada tiap kata yang tak tertulis,
Pada tiap kata yang ditulis, kemudian dihapus,
Pada tiap kata yang tersimpan rapi di draft.
Pada tiap tawa yang kau hadirkan untuk merayakan luka.
Kupersembahkan tulisan ini.
Disana, kata-kataku menemukan Tuhannya.
Mei, 2013.
Kemudian, aku memanusiakan ia yang tadinya kudewakan.
Aku mulai mencerna satu-persatu tawa yang ia bagi melalui kata-kata di linimasanya.
Aku semakin merasakan pedih yang dengan keras berusaha dialih.
Itulah dia.
Sosok yang menertawai luka hati,
Sosok yang sebenarnya acuh pada diri sendiri dan menyimpan banyak peduli dengan amat hati-hati.
Aku menemukan kepercayaan diri yang kerdil dalam kesombongannya.
Aku menemukan hati yang lapang pada amarahnya.
Aku menemukan luka yang amat dalam pada kediamannya.
Aku menemukan sedikit getir, pada tiap kata yang tadinya, mampu membuatku terbahak tiap membacanya.
Pada tiap kata yang tak tertulis,
Pada tiap kata yang ditulis, kemudian dihapus,
Pada tiap kata yang tersimpan rapi di draft.
Pada tiap tawa yang kau hadirkan untuk merayakan luka.
Kupersembahkan tulisan ini.
Disana, kata-kataku menemukan Tuhannya.
Mei, 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)