Love In The Rain

Love In The Rain
...di tempat ini, hujan dinanti setiap hari...

Sabtu, 19 Januari 2013

Surat Nggak Mikir Ya,,

Ha! Mr. Sepiker Frontal!
Cuma itu yang ada dipikiranku waktu baca suratmu.
Atuhlah sayang, ini kan acara #30HariMenulisSuratCinta  bukan #30HariMenulisBukuHarian.
Bagusin dikit kek bahasanya, woo malih!

Yaudah, surat hari ini aku nggak mau mikir ya.
Aku mau kayak dewa @dimsoer aja. Nulis gak pake mikir. Jadi bacanya jangan terlalu serius ya. Nanti kalau terlalu serius jadi lupa makan terus mati terus aku sedih. Kalo aku sedih nanti kamu ikut sedih. Kalo kamu ikut sedih nanti aku tambah sedih. Nanti aku tambah sedih kamu makin sedih. Udah ya sedih-sedihannya, aku capek ngetik.
Aku kalo capek jadi nyebelin. Nanti kalo aku jadi nyebelin kamu jadi gela. Nanti kalo kamu gela kamu diem aja. Nanti kamu diem aja aku gatau jadi tambah nyebelin. Nanti kamu bosen. Nanti aku bosen. Nanti kita cari yang nggak ngebosenin. Terus kalo nemu yang nggak ngebosenin di prospek. Terus lupa deh sama yang ngebosenin. Tamat! Eh, Yaaah...NGGAK MAUUUU DENG! 

Tuhkan kamu gitu. Kan aku udah bilang maunya cuma sama kamu. Woo. *ciscisbrutal*

Ulangi aja ya ceritanya, tadi aku ngayal sampe mana?

Aku nggak jadi ngetik yang surat ini lah ya. Biar gak capek. Terus aku jadi sehat. Dan sebagai cewek sehat aku jadi sayang kamu (terserah saya ya nyambung apa enggak, kan udah dibilangin nggak usah dipikir). Kamu katanya sayang banget sama aku. Ternyata aku beda. Eh kamu malah ternyata alien. Jadi kita sama-sama aneh. Berarti kita jodoh. Terus hidup bahagia. Mati masuk surga. Tamat! Horee tepuk tangan buat saya! *prok prok prok*

Bagusan yang mana yang ceritanya? Semua dong pasti ya? Yaiya mesti. Pokoknya besok kita bagus-bagusan tulisan lagi. Aku kan ikut #DuaHati buat latian nulis. Latian komit (nggak pake komat ya). Kamu harus bantuin aku pokoknya. Okeh? Sip. Hap..hap..hap!

Udah nggak usah dipikir, aku aja sayang sama kamu nggak pernah pake mikir.
Intinya, aku mau kamu peluk dan cium aku sekarang! Mu(nt)ah!

Pislovengawl,
(nggak tega nulis nama sendiri disini)
(dikosongin aja ya)


Kamis, 17 Januari 2013

Simulakrum Rasa

Kepada S,
Nama yang kueja dengan debar.
Detak dan detik yang kukejar.

Temanmu benar,
Kau pantas mendapat gadis sebaik itu. Tapi maaf, aku tak mungkin menjelma menjadi sosok yang temanmu gambarkan.
Namun, jika kau tambah kata "cukup" di awal kalimat, aku cukup percaya diri untuk mengiyakannya.
Aku tak sepintar itu untuk bisa menjadi gadis impianmu, tapi juga tak sebodoh itu untuk melepasmu.
Kasihan sekali dia yang meninggalkanmu dulu. Dia tak tahu seterang apa bintang yang dulu ia tinggalkan.

Cahayaku Sirius,
Tidak, aku juga tidak pernah ingin berdebat, pun pelukan yang terlalu erat. Aku tak mau nanti kau sesak dalam jerat.
Karena percayalah, setiap saat kau merinduku, sebenarnya aku sedang memelukmu dengan doaku. Dalam kebebasanmu.
Jangan pernah separtikelpun kau ragukan aku, karena tidak sedikitpun perasaanku akan bergeser atasmu. Sungguh, akupun merindukanmu. Seperti Matilde merindukan Neruda. Seperti Laila merindukan Qais.

Neruda ku,
Demi kita yang sedang aku dan kau perjuangkan, aku bersumpah tak akan pernah lagi mencemaskan cemas yang mencemaskanmu.

Ksatria hujanku,
Kuberitahu kau satu rahasia;
Aku yang kau sebut penuh warna ini, sebenarnya; transparan dan separuh.

Benar sayang,
Spektrum warna dan simulakrum emosi yang kau rasakan saat bersamaku adalah apa yang sebenarnya cerminan dari dirimu yangu kuizinkan terpantul didalamnya. Hingga kau menemukan sejuta warna, yang sesungguhnya merupakan bias warnamu sendiri.

Kuikhlaskan segala yang kumiliki untuk kau jaga dengan caramu. Kupercayakan sekeping hati yang tak lagi utuh dengan luka disegala tempat untuk kau simpan. Dan kuamankan cintamu dalam setangkup aminku, calon Imamku.

"kaulah simulakrum rasa yang diam-diam hadir di relung dada"

Purwokerto, 18 Januari.

Selasa, 15 Januari 2013

Tuhan, Kaukah itu?

"Jika kau masih ragu tentang siapa dirimu, bertanyalah pada Tuhan. Dia sangat mengenalmu, sebab aku sangat sering menceritakan tentangmu kepada-Nya."

Kepada kamu,
Pria Pertama.
Kamu selalu saja bisa menjadikan sepikanku bahan sepikan balik. Dasar cerdas!
Seseorang pernah memberitahuku, "pria tampan membuka matamu, pria cedas membuka pikiranmu, pria sejati membuka hatimu."
Sayangnya aku lupa bertanya, bagaimana jadinya jika aku bertemu pria yang punya semuanya? ;)

Kepada kamu,
Pria Tunggal.
Kita selalu saja mendebatkan segala hal. Dan aku, (kau sudah tau) lahir sebagai pemenang.
Tapi tahukah kamu? Kadang, setelah aku memenangkan perdebatan kita yang bahkan tak kau lombakan. Aku tak henti berpikir.
Semua argumenmu seolah merasuk dalam aliran nadiku menuju cerebrum.
Dan demi semesta, aku benci mengakui bahwa kau, mungkin saja, separuh benar. (jangan paksa aku mengakuinya sekali lagi)
Kemudian diatas segala pesan samar yang kau sampaikan dalam surat terakhirmu,
Aku akan tetap menjadi aku yang mencintaimu tanpa pertimbangan.
Terlepas izinmu mengiringiku atau tidak.

Kepada kamu,
Pria Satu-satunya Nomor Satu.
Aku tersanjung sekaligus cemas atas isi suratmu kemarin yang mengatakan akulah petunjukmu.  
Pertama, aku tersanjung.
Karena ternyata hatiku yang berujar "Tuhan, Kaukah itu?" tiap melihatmu, ternyata nyaris kau rasakan juga.
Kedua, Aku cemas.
Karena sebenarnya, akupun tak seputih yang kau kira. Aku cemas ekspektasimu akanku, kelak menghancurkan apa yang telah kita punya. Aku cemas jika kau mengenal sisi gelapku, kau akan serta merta melenggang pergi menjauh.
Aku cemas pada kecemasanku.
  
Semoga kecemasanku tidak beralasan,
Semoga kecemasanku hanya akan menjadi kecemasan yang akan kutertawakan kelak dibalik selimut, di dalam dekapmu.
Karena sejujurnya, dibalik semua rasa cemas, jengah, takut, dan galau yang aku rasakan tiap bersamamu, jauh di dalam hati, aku benci mengakui, bahwa sebelumnya;
aku belum pernah sejatuh cinta ini.

regards,
Pemburu Hujan.