Jika sebelumnya kita sering saling melempar kata,
kali itu mungkin kata-kata yang sedang menampar kita.
Kita menertawai kebodohan yang kita sendiri tidak mengetahuinya benar
Menertawai kegetiran masing-masing akan mimpi yang tidak selesai
Menertawai kepengecutan yang kini sama-sama kita sesali
Ya, kali itu tak akan pernah kembali
Kali itu tak akan pernah hadir lagi
Sama-sama dari kita menyadari
Bahwa kemungkinan yang dulu ada, kini tiada lagi
Atas segala yang pernah kumulakan
Segala yang tanpa sadar ku bagikan
Kini mesti kuakhirkan
Dan dengan sadar kunikmati sendirian
Demi segala yang telah, sedang, belum, mungkin dan tak akan terjadi.
I forgive, to forget you..
And I forget to forgive you..
Deal it?
Lead it!
Love In The Rain
...di tempat ini, hujan dinanti setiap hari...
Kamis, 09 Agustus 2012
Jumat, 03 Agustus 2012
Kepada Cinta.
Sadarku makin nyata,
setelah jauh engkau kubiarkan bertahta
hela nafas menjadi milikmu tanpa jeda
Bahwa ternyata,
sampai detik ini aku masih enggan menatap mata
yang membuatku tersengat takluk pada cinta
yang menyulut bahagia seada-adanya
Merapal namamu dari jerit doa
menjadikan cinta yang pada jalannya
mewujud bahagia menjadi nyata
bukan pada rasa yang sia-sia
Untuk kita,
adakah hadirku nyata?
setelah jauh engkau kubiarkan bertahta
hela nafas menjadi milikmu tanpa jeda
Bahwa ternyata,
sampai detik ini aku masih enggan menatap mata
yang membuatku tersengat takluk pada cinta
yang menyulut bahagia seada-adanya
Merapal namamu dari jerit doa
menjadikan cinta yang pada jalannya
mewujud bahagia menjadi nyata
bukan pada rasa yang sia-sia
Untuk kita,
adakah hadirku nyata?
Sabtu, 28 Juli 2012
Langit Abu - Abu.
Kepadamu, aku menyimpan cemburu dan harapan yang dipenuhi ragu tertumpuk pada sederet rasa bernama pilu.
Terlalu banyak sekat yang tak mampu aku buka.
Itu ada pada kita yang bersama tapi tak juga berbagi ruang bernama rahasia.
Lalu, kebersatuan kita hanya memperbanyak sekat yang tak bisa dibuka.
Sekat dimana rongga-rongga pada hati kita sebenarnya membutuhkan pelukan.
Mungkin, garis kita tidak bersinggungan. Jalan kita tidak bersimpangan.
Garisku. Garismu. Jalanku. Jalanmu.
Ya, aku dan kamu.
Meski disini, diam-diam aku masih menatapmu dengan rindu yang menggebu.
Dengan cinta yang malu-malu.
Aku dan kamu selaksa hujan dan teduh.
Ditakdirkan bertemu, selalu.
Dan tidak pernah tetap menyatu dalam perjalanannya.
Seperti itulah cinta yang kita punya.
Ambigu. Ragu. Seperti langit abu-abu.
Terlalu banyak sekat yang tak mampu aku buka.
Itu ada pada kita yang bersama tapi tak juga berbagi ruang bernama rahasia.
Lalu, kebersatuan kita hanya memperbanyak sekat yang tak bisa dibuka.
Sekat dimana rongga-rongga pada hati kita sebenarnya membutuhkan pelukan.
Mungkin, garis kita tidak bersinggungan. Jalan kita tidak bersimpangan.
Garisku. Garismu. Jalanku. Jalanmu.
Ya, aku dan kamu.
Meski disini, diam-diam aku masih menatapmu dengan rindu yang menggebu.
Dengan cinta yang malu-malu.
Aku dan kamu selaksa hujan dan teduh.
Ditakdirkan bertemu, selalu.
Dan tidak pernah tetap menyatu dalam perjalanannya.
Seperti itulah cinta yang kita punya.
Ambigu. Ragu. Seperti langit abu-abu.
Langganan:
Postingan (Atom)